oleh

Hari Pegat Uwakan Jadi Momentum Mengakhiri Rangkaian Galungan dan Memperkuat Komitmen Dharma

BALI | Cakrabali.com – Umat Hindu di Bali pada Rabu (22/7/2026) memperingati Hari Pegat Uwakan yang jatuh pada Buda Kliwon Wuku Pahan. Rahinan ini menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan sekaligus momentum untuk memperkuat komitmen menjalankan ajaran dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Hari Pegat Uwakan yang datang setiap 210 hari berdasarkan kalender Pawukon memiliki makna sebagai penyucian diri, evaluasi spiritual, serta pengingat agar kemenangan dharma atas adharma tidak berhenti sebatas perayaan, tetapi diwujudkan dalam sikap dan perilaku nyata.

Secara tradisi, umat Hindu mencabut penjor yang dipasang sejak Penampahan Galungan. Berbagai perlengkapan penjor kemudian dibakar dan abunya ditanam sebagai simbol kesuburan, kemakmuran, serta harapan agar kehidupan senantiasa diberkahi oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Selain menjadi penutup rangkaian Galungan dan Kuningan, Pegat Uwakan juga mengandung makna memutus segala sifat buruk, membersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan, serta memperkuat keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Seorang tokoh Hindu mengatakan bahwa Hari Pegat Uwakan menjadi momentum untuk membawa semangat kemenangan dharma ke dalam kehidupan sehari-hari.

“Pegat Uwakan mengajarkan bahwa kemenangan dharma tidak berhenti pada pelaksanaan upacara. Nilai-nilai Galungan harus terus diwujudkan melalui perilaku yang berlandaskan satya, dharma, dan kasih sayang kepada sesama.”

Ia menambahkan, pencabutan penjor bukan berarti berakhirnya makna Galungan, melainkan simbol dimulainya kembali aktivitas kehidupan dengan semangat baru.

“Mari jadikan Hari Pegat Uwakan sebagai momentum memperkuat sradha dan bhakti, menjaga kesucian pikiran, ucapan, serta perbuatan, sehingga kedamaian dan kesejahteraan dapat terwujud dalam kehidupan bermasyarakat.”

Melalui peringatan Hari Pegat Uwakan, umat Hindu diharapkan terus menjaga nilai-nilai Tri Hita Karana, memperkokoh persatuan, serta menjadikan dharma sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang harmonis, sejahtera, dan berkelanjutan.(*)

BERITA HARI INI