oleh

Keris “Ki Medang Siu” Karya Kenyoz Sudama, Merajut Tradisi Bali dan Filosofi Seribu Jarum

BULELENG, BALI — 29 Agustus 2026 — Ketut Sudama, yang akrab dipanggil Kenyoz Sudama, memperkenalkan sebuah karya keris Bali yang memiliki konsep unik. Karya yang diberi nama “Ki Medang Siu” tersebut mengangkat tema “Seribu Jarum, Sejuta Harapan” dan terinspirasi dari perjalanan Kenyoz sebagai seorang seniman tato.

Keris tersebut dibuat dengan menghadirkan pamor yang terinspirasi dari jarum tato. Bagi Kenyoz, perpaduan tersebut bukan sekadar eksperimen dalam berkarya, melainkan sebuah cara untuk mengabadikan perjalanan dirinya sebagai seniman sekaligus bentuk penghormatan terhadap tradisi dan budaya Bali.

Karya itu diperkenalkan di Desa Gunungsari Tunju, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Sabtu, 29 Agustus 2026.

“Saya memperkenalkan keris Bali yang terbuat dari pamor jarum tato dengan tema ‘Seribu Jarum, Sejuta Harapan’. Bagi saya, karya ini bukan sekadar keris,” ujar Kenyoz Sudama.

Menurutnya, keris tersebut menjadi perpaduan antara tradisi yang diwariskan dengan perjalanan panjangnya dalam dunia seni tato.

“Keris ini merupakan perpaduan tradisi dan perjalanan saya sebagai seniman tato. Saya ingin mengabadikan perjalanan tersebut menjadi sebuah karya budaya yang memiliki nilai dan filosofi yang lebih dalam,” katanya.

Kenyoz menuturkan, inspirasi utama karya tersebut berasal dari jarum tato yang selama ini menjadi bagian penting dalam proses dirinya menciptakan karya seni. Jarum tidak hanya dipandang sebagai alat, tetapi memiliki makna filosofis dalam perjalanan hidup dan berkaryanya.

“Bagi saya, jarum adalah alat untuk berkarya. Dari jarum itu saya menuangkan karya dan perjalanan saya sebagai seorang seniman,” tuturnya.

Sementara itu, keris memiliki makna tersendiri bagi Kenyoz. Keris dipandang sebagai simbol jiwa dan identitas yang kemudian menjadi medium untuk menyampaikan perjalanan pribadinya.

“Sedangkan keris bagi saya adalah simbol jiwa dan identitas. Karena itu saya mencoba menyatukan kedua hal tersebut dalam satu karya,” ungkapnya.

Kenyoz mengatakan, keris Ki Medang Siu juga menjadi bentuk dedikasi kepada dirinya sendiri. Karya tersebut menjadi pengingat atas proses yang telah dijalani, sekaligus dorongan untuk terus mempertahankan semangat dalam berkarya.

“Saya mendedikasikan keris ini untuk diri saya sendiri sebagai simbol perjalanan, ketekunan, dan kecintaan saya terhadap seni,” katanya.

Tema “Seribu Jarum, Sejuta Harapan” dipilih karena memiliki makna yang erat dengan perjalanan Kenyoz sebagai seniman. Seribu jarum menjadi simbol dari proses dan perjalanan, sedangkan sejuta harapan menggambarkan cita-cita untuk terus berkarya dan memberikan makna melalui seni.

“Seribu jarum, sejuta harapan. Bagi saya, setiap jarum memiliki perjalanan dan harapan. Itu yang kemudian saya tuangkan dalam karya keris ini,” jelas Kenyoz.

Ia berharap karya tersebut tidak hanya berhenti sebagai benda seni atau benda budaya, tetapi juga memiliki nilai pengingat bagi dirinya untuk tetap menjaga semangat berkarya dan menghormati tradisi.

“Semoga karya ini tidak hanya sebagai benda, tetapi juga menjadi pengingat bagi saya untuk terus berkarya, menghargai tradisi, dan menjaga jati diri sebagai seorang seniman,” ujarnya.

Melalui Ki Medang Siu, Ketut Sudama alias Kenyoz Sudama berusaha mempertemukan dua dunia yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, yakni seni tato dan tradisi keris Bali. Jarum tato menjadi representasi perjalanan kreativitas, sementara keris menjadi simbol jiwa, identitas, dan penghormatan terhadap budaya.

Karya tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa tradisi dan kreativitas dapat berjalan berdampingan. Bagi Kenyoz, “Seribu Jarum, Sejuta Harapan” bukan hanya sebuah nama, tetapi menjadi filosofi perjalanan untuk terus berkarya, menjaga identitas, serta menghargai warisan budaya Bali.**